Oleh: Adli Dzil Ikram

Saya dan tim Gampong Film tiba di Meulaboh pukul 02.00 WIB. Hujan deras membasahi sepanjang jalan. Saya menikmatinya dengan tidur, kecuali Mukmin dan Munzir yang duduk paling depan di dalam mobil. Mukmin mengemudi dan Munzir menemaninya. Melewati jalan berbatu, mata saya terbuka.

“Udah sampek mana?”

“Tidur terus, nanti kalau sampe kami bangunin,” ujar Munzir.

Saya mencoba tidur, tapi tidak bisa lagi karena goyangan mobil semakin kencang akibat jalan berbatu. Sepertinya, sedang ada perbaikan jalan. Saya menyetel lagu dengan headset. Suara Gerald terdengar di telinga dan saya menutup mata. Beberapa menit kemudian, sesuatu terjadi.

Jetarrrr…tar…tar!

Mobil melewati gundukan lalu masuk ke lubang kecil. Kejadian itu membuat beberapa peralatan tergeser dan menyebabkan suara keras. Kami semua terbangun, saling menatap satu sama lain.

“Kenapa Min?” tanya Azhari yang terbangun dari tidur. Sementara Mukmin terus mengemudi.

“Sorry guys,” katanya, “masuk dalam lobang Tgk. Ayi.”

“Kupikir udah masuk ke paya tadi,” kata Azhari dengan wajah yang panik, “coba liat proyektor di belakang.”

“Aman bang.”

Kami singgah di sebuah warung untuk menghangat tubuh dan mengobati rasa lapar. Di tengah menyantap makanan, kami sadar belum tahu akan istirahat dimana. Azhari mencoba menelpon Sayed. Sayed adalah salah satu sineas Aceh, yang pernah menetap lama di Banda Aceh. Sebagian besar dari tim Gampong Film mengenalnya. Tapi, saya tidak mengenalnya. Sayed menyuruh kami untuk ke rumahnya. Itu di Nagan Raya. Sekitar 30 menit dari warung ini. Sementara itu, di luar hujan masih turun dan membasahi kota Meulaboh.

Sayed dan keluarganya menjamu kami dengan baik di rumahnya. Setelah berbincang-bincang , kami beristirahat dan terbangun pukul 10 pagi. Suhu cukup dingin dari semalam, setidaknya bagi saya. Saya bertanya kepada Mukmin bagaimana tidurnya semalam? Katanya, ia tidak merasakan apa-apa sejak membaringkan badan.

Keesokan paginya, setelah berpamitan, kami langsung menuju lokasi pemutaran. Hari ini, matahari terlihat di langit Meulaboh. Awalnya, pemutaran akan diadakan di lapangan bola. Namun, mengingat cuaca yang tidak bersahabat, lokasi dipindahkan ke halaman masjid Al-Hisan, Ujong Tanjong. Kami juga mencari opsi lain. Di masjid itu juga ada ruangan aula, di sebelah kantor kepala desa. Lagi-lagi keputusan diambil setelah magrib.

Menjelang magrib kami kembali mencoba membaca awan. Kali ini kami tak percaya lagi pada prediksi cuaca. Setelah berdiskusi, kami mencoba memasang layar dulu di halaman masjid untuk mengundang perhatian warga, bahwa pemutaran jadi diadakan. Warga memperhatikan kami memasang layar, sebagian juga ada yang membantu. Mengadakan pemutaran di ruang terbuka memang harus lihai dalam membaca kemauan alam. Hal ini sudah lumrah.

Kami mengambil keputusan bahwa pemutaran akan dilakukan di halaman masjid, setelah melihat tidak ada tanda-tanda hujan akan turun.

Pada pemutaran terakhir ini, ada tujuh film yang akan diputar. Lebih banyak dari jumlah film pada lokasi yang lain. Film-film itu, bagi saya harus diputar untuk menawarkan perspektif baru dan memantik pertanyaan dari penonton. Sebagian film-film itu berlatar di Aceh Barat.

Film pertama adalah film Cang Nipah, film dokumenter ini yang bercerita tentang sejarah peperangan di rawa nipah di Samatiga. Selanjutnya, film Sigeupai Harapan (2016), dokumenter yang bercerita tentang kehidupan seorang anak bibir sumbing. Senja Geunaseh Sayang (2015), seperti di kampung lain, adalah film yang mengundang reaksi emosional dari penonton. Terutama dari para orang tua. Bagi Azhari, film itu membawa ketakutan akan masa depan untuk orang tua dan pelajaran bagi anak-anak agar tidak menitip orang tuanya di panti jompo.

Film keempat adalah Suloh (2020) yang mengundang tawa dan pelajaran bagi warga. “Film Suloh memberi pelajaran berarti bagi kehidupan di kampung. Terutama dalam penyelesaian masalah. Tapi, saya paling terkesan dengan film Klinik Nenek,” kata kepala desa Ujong Tanjong ketika saya wawancarai. Ketika film Suloh diputar, gerimis mulai turun. Namun, penonton belum ada yang beranjak dari tempatnya. Saya juga menangkap, penonton di sini tidak terlalu ekspresif. Banyak diam. Saya mengatakan hal ini pada Azhari. Dia juga menangkap hal serupa.

Film Klinik Nenek (2019), menceritakan tentang pengobatan tradisional di Aceh Barat. Namun, angin kencang memutuskan satu tali layar yang terikat di tempat parkir masjid, sehingga membuat bagian kiri layar terjatuh. Saya berlari dan begitu juga tim yang ada di dekat situ. Kami mencoba menahannya. Angin semakin kencang. Salah seorang warga memberi saran agar layar segera diturunkan. Saya masih menahan layar. Terdengar suara kerangka layar, nyit..nyit. Kami akhirnya, memberhentikan pemutaran.

Ketika kepala desa memberi kata penutup, warga satu per satu meninggalkan tempat. Mereka menyelamatkan diri angin dan gerimis yang mulai deras. Tim Gampong Film dan dibantu oleh beberapa teman yang hadir membereskan peralatan dengan cepat. Beberapa jurus kemudian, alat semua alat seudah berada dalam mobil. Lalu, hujan pun turun. Tiga film lainya, tidak jadi diputar; Surat Kaleng 1949 (2019), Lautan Bara (2018), dan Black Note (2020).

“Coba kalau tadi gak segera kita bereskan alat, pasti dalam hujan kita kerja,” ujar Munzir dengan rokok di mulutnya, “angin kencang tadi memang kode alam.” Dan layar Gampong Film pun berakhir.

Saya senang berada di tim Gampong Film ini. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil, terutama dalam bernegosiasi dan berkomunikasi dengan pihak kampung, melihat reaksi penonton dan pengaruh film pada perubahan cara pandang seseorang. Dengan kerendahan hati, saya dan tim Gampong Film mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat selama Gampong Film. Terima kasih![]

Aceh Film Festival 2022